METRO – Pemerintah Kota (Pemkot) Metro terus berupaya mencari solusi berkelanjutan guna mengatasi permasalahan sampah yang kian menumpuk. Wakil Wali Kota Metro, M. Rafieq, mengimbau dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai menerapkan budaya memilah sampah dari rumah, serta menanamkan kebiasaan ramah lingkungan ini sejak usia dini.
Imbauan tersebut disampaikan saat diskusi group karena adanya perdebatan terkait sampah yang dinilai kurang pas. Ia memberikan penjelasan dan himbauan terkait sampah yang dipilah oleh siswa atau pelajar pada, Kamis (15/10/2026).
Dalam penjelasannya melalui komentar narasi yang disampaikan Wakil Wali Kota Metro menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah semata, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, reduksi sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya kesadaran dari sumber utamanya, yaitu rumah tangga dan anak pelajar sejak usia dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut penjelasan terkait sampah:
Perlu kita pahami bersama bahwa ajakan Pemerintah Kota Metro untuk memilah sampah sejak dari rumah dan menyetorkannya ke bank sampah, mulai dari anak usia dini, pelajar, orang dewasa hingga lansia, bukan sekadar program seremonial, tetapi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan Kota Metro dari persoalan sampah yang semakin berat.
Berdasarkan proyeksi Satu Data Provinsi Lampung, timbulan sampah Kota Metro pada tahun 2026 mencapai 107,59 ton per hari, atau lebih dari 39.000 ton dalam setahun.
Artinya, setiap hari sampah baru terus dihasilkan oleh aktivitas masyarakat, sementara kemampuan pengangkutan dan pengolahan memiliki keterbatasan.
Kajian transportasi persampahan tahun 2025 oleh Politeknik Transportasi Darat Indonesia–STTD mencatat timbulan sampah sebesar 352,2 m³ per hari, dengan sekitar 125,1 m³ per hari belum terangkut pada kondisi yang diteliti.
Kita perlu memahami bahwa pengangkutan sampah membutuhkan armada, BBM, petugas, perawatan kendaraan, dan biaya operasional yang tidak sedikit.
Berdasarkan informasi resmi Pemkot Metro per 11 Oktober 2026, realisasi retribusi persampahan baru mencapai Rp1,3 miliar atau 61,78% dari target Rp2,1 miliar.
Artinya, dukungan pendanaan pelayanan persampahan masih perlu diperkuat, sementara kebutuhan pelayanan terus berjalan.
Menambah armada tentu penting, tetapi menambah truk saja tidak akan menyelesaikan persoalan jika jumlah sampah terus meningkat dan semuanya harus dibuang ke TPAS.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro telah menyampaikan bahwa TPAS Karangrejo mulai mengalami kelebihan kapasitas.
Bahkan, Pemerintah Kota Metro menetapkan Status Darurat Pengelolaan Sampah sejak 1 Juni sampai 31 Desember 2026.
Kita juga telah mengalami gangguan pelayanan pengangkutan akibat penutupan akses TPAS pada Agustus 2026.
Ini menjadi pengingat bahwa kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan TPAS sebagai satu-satunya solusi.
Karena persoalan sampah tidak mungkin selesai hanya oleh petugas kebersihan atau pemerintah.
Anak usia dini perlu dibiasakan mengenali dan memilah sampah melalui kegiatan sederhana dengan pendampingan. Pelajar dan generasi muda dapat menjadi penggerak perubahan.
Orang dewasa membangun kebiasaan di rumah tangga. Sementara para lansia dapat menjadi teladan dan memberikan edukasi kepada keluarga serta lingkungan sesuai kemampuan masing-masing.
Bayangkan jika setiap keluarga mulai memilah sampahnya sendiri.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sampah anorganik bernilai ekonomi seperti botol plastik, kertas dan logam dapat disetorkan ke bank sampah, sedangkan sampah residu ditangani melalui layanan persampahan.
Sebagai ilustrasi, jika 10% dari proyeksi timbulan sampah Kota Metro tahun 2026 berhasil dikurangi atau diolah dari sumbernya, sekitar 10,8 ton sampah per hari berpotensi tidak perlu masuk ke TPAS. Dalam setahun, jumlahnya hampir 4.000 ton.
Jadi, ajakan memilah sampah bukan berarti Pemerintah Kota Metro melepaskan tanggung jawab.
Pemerintah tetap berkewajiban memperbaiki armada, meningkatkan pelayanan, mengoptimalkan retribusi, memperkuat bank sampah, dan membenahi TPAS.
Namun, keberhasilan pengelolaan sampah tidak akan tercapai tanpa keterlibatan masyarakat.
Bank sampah bukan sekadar tempat menabung sampah untuk memperoleh uang. Bank sampah merupakan bagian dari upaya mengurangi beban pengangkutan, menghemat sumber daya, memperpanjang usia pelayanan TPAS, serta membangun budaya masyarakat yang peduli lingkungan.
Kota Metro yang bersih tidak cukup hanya dengan menambah armada pengangkut sampah. Kita harus mulai mengurangi sampah yang perlu diangkut. (Red)




























