METRO – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Metro Lampung tidak hanya menjadi tempat pembinaan jeruji besi biasa, melainkan telah menjelma menjadi wadah produktivitas yang kreatif. Di balik dinding lembaga tersebut, para warga binaan berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk berkarya.
Mereka sukses menelurkan berbagai produk berkualitas tinggi, dengan salah satu produk unggulan yang mencuri perhatian: Kopi Robusta, yang bahannya dari Lampung Barat, yang dinilai sangat cocok untuk menemani aktivitas sehari-hari masyarakat.
Selain kopi, program pembinaan kemandirian di Lapas Metro ini juga menghasilkan berbagai macam produk korve kerajinan tangan, kesenian, hingga produk olahan pangan lainnya. Namun, produk kopi inilah yang diprediksi bakal menjadi primadona baru di pasar lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Plh. Kalapas Kelas II A Metro yang diwakili Zahrial, Kasie Kegiatan Kerja Lapas Metro menyatakan bahwa kegiatan pembinaan ini bertujuan untuk memberikan bekal keterampilan (skill) nyata kepada para warga binaan.
“Kami ingin memastikan bahwa ketika mereka selesai menjalani masa hukuman dan kembali ke masyarakat, mereka punya modal keahlian yang bernilai ekonomis. Produk kopi ini adalah bukti nyata dari keseriusan mereka untuk berubah menjadi lebih baik,” ujarnya di Lapas setempat pada pada Senin (06/07/2026).
Zahrial menjelaskan, produk UMKM yang dihasilkan oleh Warga binaan yaitu, selain kopi juga sabun cuci kemasan botolan, berguna baik untuk cuci piring, pakaian dan sebagainya.
“Untuk kopi, sudah bisa beredar luas dipasaran seperti di Swalayan dan lain-lain. Sedangkan untuk sabun cuci, sudah bisa dipasarkan namun masih belum dipasarkan sepenuhnya,’ jelasnya.
Kendati demikian, dirinya mengaku kalau untuk kopi itu pun masih kapasitas skala kecil belum sepenuhnya besar. Sebab dirinya belum bisa pastikan berapa kapasitas yang terjual habis dalam kurun waktu satu bulan.
Oleh sebab itu itu, dirinya mengeluh kan terkait pemasaran tersebut, agar bisa dikenali oleh masyarakat luas bahwa produk mereka bisa menjadi teman santai yaitu kopi.
Menurut Zahrial, terkendala saat ini ada di persaingan di pasaran luas. Untuk rasa tidak kalah dengan produk yang diluaran sana. Apakah perlu dikenalkan lebih jauh lagi kepada masyarakat.
“Saya rasa, itu terkendala ada di persaingan di pasaran luas diluar sana. Namun kalau rasa kita jamin tidak kalah rasa,” katanya.
Untuk itu, dirinya akan mengoptimalkan kembali ke masyarakat luar agar lebih kenal lebih luas oleh masyarakat umum. Bila perlu adanya sosialisasi promosi untuk dikenalkan, urainya.
Dirinya berharap kedepannya agar prodak hasil warga binaan ini bisa dikenalkan lebih jauh kepada masyarakat agar lebih dikenal guna mendukung aktivitas para warga binaan melakukan hal yang positif di dalam Lapas.
Diketahui, proses pengolahan produk-produk ini, mulai dari pemilihan bahan baku, penyortiran, penyangraian (roasting) biji kopi, hingga pengemasan, seluruhnya dilakukan oleh warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan khusus dari instruktur profesional. Melalui pengawasan ketat dan standar higienis, produk yang dihasilkan dipastikan aman dan layak bersaing dengan produk UMKM di luar Lapas.
Kedepannya, produk-produk andalan tersebut akan diperkenalkan ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran produk maupun melalui galeri kunjungan di Lapas setempat. Kehadiran Kopi andalan warga binaan ini diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap pagi hari penikmat kopi, tetapi juga menjadi simbol harapan dan kesempatan kedua bagi mereka yang sedang berbenah diri. (**)




























