Menjaga ‘Anjing Penjaga’ Demokrasi: Cerita di Balik UU Pers Nomor 40 Tahun 1999

- Penulis

Selasa, 5 Mei 2026 - 21:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Juniardi

Bayangkan sebuah kota di mana tidak ada jendela. Penduduknya hidup dalam kegelapan informasi, hanya mendengar apa yang ingin disampaikan oleh penguasa. Itulah gambaran sebuah bangsa tanpa pers yang merdeka. Namun, di Indonesia, “jendela” itu telah dipasang dengan kokoh sejak fajar reformasi menyingsing melalui lahirnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Undang-undang ini bukan sekadar tumpukan kertas legalistik. Ia adalah napas bagi para pencari berita, sebuah janji bahwa “mulut” publik tidak akan lagi dibungkam oleh sensor atau pembredelan.

Dahulu, bayang-bayang pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) selalu menghantui awak redaksi. Namun, Pasal 4 UU Pers mengubah segalanya. Kini, kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Pers nasional tidak lagi mengenal sensor atau pelarangan penyiaran.

Ia bekerja bukan untuk menyenangkan penguasa, melainkan untuk memenuhi hak tahu masyarakat. Bahkan, UU ini membekali jurnalis dengan “senjata” unik bernama Hak Tolak. Artinya, seorang wartawan berhak melindungi sumber informasinya dari siapa pun, termasuk aparat hukum, demi menjamin keamanan mereka yang berani bersuara.

Kekuatan di Balik Pasal 18

Bekerja di lapangan sering kali menempatkan jurnalis di garis api. Ada kalanya mereka diusir, diintimidasi, hingga peralatannya dirusak saat meliput peristiwa sensitif. Di sinilah Pasal 18 berbicara dengan lantang.

Pasal ini memberikan peringatan keras: siapa pun yang dengan sengaja menghambat atau menghalangi tugas pers dapat dijebloskan ke penjara hingga 2 tahun atau denda setengah miliar rupiah. UU Pers ingin memastikan bahwa saat seorang wartawan memegang kamera atau pena, ia sedang menjalankan tugas negara yang dilindungi undang-undang.

Namun, layaknya setiap produk manusia, UU Pers memiliki dua sisi mata uang.

Kekuatannya terletak pada sifatnya yang Lex Specialis. Jika terjadi sengketa pemberitaan, ia tidak langsung dibawa ke meja hijau pidana, melainkan harus melalui “wasit” etik di Dewan Pers. Ini adalah perlindungan luar biasa agar jurnalis tidak mudah dikriminalisasi hanya karena menjalankan fungsi kontrol sosial.

Namun, kelemahannya pun nyata. Di era digital yang serba cepat, UU Pers sering kali “bertabrakan” dengan regulasi lain seperti UU ITE yang kerap dipakai untuk menjerat jurnalis di ruang siber. Selain itu, definisi “perusahaan pers” yang kaku sering kali belum menyentuh fenomena jurnalisme warga di media sosial. Belum lagi soal kesejahteraan; UU ini menyerahkan urusan “dapur” wartawan kepada perusahaan, yang dalam banyak kasus, masih menjadi titik lemah bagi independensi mereka.

Etika: Sang Perisai Sejati

Pada akhirnya, kebebasan yang diberikan oleh UU Pers bukanlah “cek kosong”. Kebebasan ini menuntut tanggung jawab moral yang besar melalui Kode Etik Jurnalistik.

Wartawan memiliki hak untuk menolak perintah atasan jika itu melanggar etika. Sebab, pertahanan terbaik seorang jurnalis bukanlah pasal-pasal hukum, melainkan kebenaran yang akurat dan berimbang. Kebebasan pers tanpa etika hanyalah kekacauan, namun pers tanpa kebebasan adalah kematian bagi demokrasi.

Melalui UU Nomor 40 Tahun 1999, kita tidak hanya melindungi wartawan, tetapi sedang melindungi mata dan telinga kita sendiri sebagai warga negara. (**)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ketua DPRD Lampung dan Ketua Komisi V Hadiri Sholat Idul Adha Bersama Gubernur di Masjid Raya Al-Bakrie
DPRD Provinsi Lampung Gelar Rapat Paripurna Pembicaraan Tingkat II LKPJ Kepala Daerah Tahun Anggaran 2025
Komisi IV DPRD Lampung Fasilitasi Aspirasi Ekosistem Transportasi Online, Melalui RDP Bersama Stakeholder
Sikapi Insiden Bulog, Hendra Apriyanes: Solusi Wajib Berbasis Aturan, Jaga Keseimbangan Hak dan Kewajiban!
Wartawan Korban Dugaan Arogansi Oknum Bulog KCP Metro Kunjungi Pengcab JMSI dan DPD ASWIN Lampung
Sekretariat DPRD Provinsi Lampung Gelar Kurve Jumat, Wujudkan Lingkungan Kerja Bersih dan Nyaman
Managemen Venos Karaoke and Lounge Resmi Laporkan Mantan Direktur PT. Faza Satria Gianny (Venos Karaoke and Lounge) Ke Polisi
Ketua DPRD dan Gubernur Lampung Hadiri Agenda Penetapan Tuan Rumah PON 2032
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:07 WIB

Ketua DPRD Lampung dan Ketua Komisi V Hadiri Sholat Idul Adha Bersama Gubernur di Masjid Raya Al-Bakrie

Senin, 25 Mei 2026 - 17:37 WIB

DPRD Provinsi Lampung Gelar Rapat Paripurna Pembicaraan Tingkat II LKPJ Kepala Daerah Tahun Anggaran 2025

Senin, 25 Mei 2026 - 17:28 WIB

Komisi IV DPRD Lampung Fasilitasi Aspirasi Ekosistem Transportasi Online, Melalui RDP Bersama Stakeholder

Senin, 25 Mei 2026 - 07:28 WIB

Sikapi Insiden Bulog, Hendra Apriyanes: Solusi Wajib Berbasis Aturan, Jaga Keseimbangan Hak dan Kewajiban!

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:09 WIB

Wartawan Korban Dugaan Arogansi Oknum Bulog KCP Metro Kunjungi Pengcab JMSI dan DPD ASWIN Lampung

Berita Terbaru