METRO – Sebagai upaya nyata dalam menciptakan pemerataan akses pendidikan, Kepala SMA Negeri 5 Metro turut serta dalam kegiatan Advokasi Gerakan Pencegahan Anak Berisiko Putus Sekolah, yang digelar pada Jum’at (08/05/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi kolaboratif antara pemerintah dan satuan pendidikan untuk mengidentifikasi dini siswa-siswa yang memiliki kerentanan berhenti sekolah. Faktor ekonomi, masalah keluarga, hingga kurangnya motivasi belajar menjadi fokus utama dalam pembahasan advokasi kali ini.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala SMA Negeri 5 Metro,
Tri Nurul Fajarotun, S.Kom., M.T.I menyampaikan, kegiatan ini sebagai upaya memperkuat komitmen bersama dalam mendukung keberlangsungan pendidikan peserta didik.
Melalui kegiatan ini, mudahan terbangun sinergi antara sekolah, guru BK, dan seluruh pihak terkait dalam mencegah peserta didik dari risiko putus sekolah serta menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih peduli, inklusif, dan berkelanjutan.
“Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan masa depan yang lebih baik,” ucapnya seperti dikutip dari Instagram official SMAN 5 Metro pada Senin, (11/05/2026).
Selain itu, keterlibatan sekolah dalam gerakan ini sangat krusial. Sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan garda terdepan dalam memantau perkembangan fisik dan psikis siswa.
“Kami berkomitmen untuk melakukan pendekatan yang lebih humanis dan proaktif. Dengan adanya advokasi ini, SMA Negeri 5 Metro akan memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas untuk mendeteksi dini jika ada siswa yang mulai menunjukkan tanda-tanda kesulitan yang berpotensi putus sekolah,” tambahnya di sela-sela kegiatan.
Selain pendeteksian dini, kegiatan ini juga menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat sekitar. Program-program seperti bantuan beasiswa, pemanfaatan dana BOS secara tepat sasaran, serta program literasi motivasi akan terus dioptimalkan.
Melalui gerakan ini, diharapkan tidak ada lagi anak di Kota Metro, khususnya di lingkungan SMA Negeri 5 Metro, yang harus mengubur impiannya hanya karena terkendala biaya atau permasalahan sosial. Pemerintah Kota Metro melalui gerakan ini menargetkan “Zero Dropout” demi menyongsong generasi emas Indonesia yang lebih berkualitas. (Red)





























